Rabu, 08 Februari 2012

SAP SEX BEBAS DIKALANGAN REMAJA


SATUAN ACARA PENYULUHAN
TENTANG SEKS BEBAS DIKALANGAN REMAJA



DISUSUN OLEH KELOMPOK 6 :
1.FADILAH AINI
2.JANILA USMELIA
3.YULI MARTINI
4.ULUL ILMI
5.ASMUJI RAIS ANWAR
6.SEPRINALDI






PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
TAHUN 2011




SATUAN ACARA PENYULUHAN
( SAP )

Bidang Studi  : Pendidikan kesehatan
            Topik              : Kenakalan Pada Remaja
            Sub topik        : Free sex ( seks bebas )
            Sasaran          : Remaja
            Hari/tanggal   :
            Jam                 :
            Waktu                        :
            Tempat           :



A.    Latar belakang

Angka kematian ibu dan bayi saat ini masih sangat tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai factor, salah satu diantaranya adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan reproduksi. Aborsi adalah penyumbang angka kematian ibu dan bayi yang cukup besar.
Pelaku aborsi ternyata bukan saja wanita yang sudah menikah tetapi tidak menginginkan anak, melainkan wanita yang belum menikah pun banyak yang melakukannya. Bahkan yang sangat memprihatinkan, hampir sebagian besar wanita yang melakukan aborsi adalah berasal dari kalangan remaja yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah.
Perilaku remaja yang demikian disebabkan karena beberapa factor. Kurangnya pendidikan tentang kesehatan reproduksi dan bahaya free sex merupakan factor pemicu terbesar. Semakin canggihnya tekhnologi juga banyak disalahgunakan sebagai media untuk memicu terjadinya sex bebas di kalangan remaja.
Sebagai praktisi kesehatan khususnya sebagai bidan yang juga bertanggung jawab terhadap kesehatan reproduksi remaja, maka seharusnya kita ikut menekan angka sex bebas pada remaja. Melalui penyuluhan-penyuluhan yang dutujukan kepada remaja, diharapkan mereka dapat semakin mengerti dan memahami bahwa free sex hanya akan membawa akibat negative bagi diri mereka. Dengan demikian diharapkan angka aborsi akan mengalami penurunan dan angka kematian ibu dan bayi pun akan menurun.



B.     Tujuan
1.      Tujuan Instruksional Umum ( THU )
 Setelah diadakan penyuluhan tentang free sex pada remaja, diharapkan dapat mencegah terjadinya free sex pada remaja.

2.      Tujuan instruksional khusus ( TIK )
Setelah dilakukan penyuluhan tentang free sex pada remaja, diharapkan dapat:
1. Mengurangi angka kematian pada ibu dan anak.
2. Menekan angka aborsi pada remaja.
3. Mencegah terjadinya PMS.
4. Menekan terjadinya pernikahan di usia dini.

C.     Manfaat
1. Remaja dapat mengetahui tentang bahaya free sex.
2. Remaja dapat mengetahui tentang dampak free seks
3. Remaja dapat mengetahui tentang cara penanaggulangan free seks


D.     Materi
Terlampir
E.     Kegiatan penyuluhan
1.      Topik kegiatan
Penyuluhan tentang cara mengatasi free seks pada kalangan remaja.
2.      Sasaran
Remaja dengan usia produktif dari 14 th >
3.      Metode
a.       Ceramah
b.      Tanya jawab
4.      Media dan alat
a.       Laptop
b.      LCD
c.       Microphone
d.      Leaflet
5.      Tempat
Aula STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
6.      Waktu
Hari        : Senin
Tanggal  : 19 desember 2011
Jam        : 08.00 s/d 08.45
7.      Pengorganisasian
1.      Penanggung jawab : Ulul ilmi
2.      Presenter                : Fadilah aini
3.      Moderator              : Janila usmelia
4.      Notulen                  : Yuli martini
5.      Fasilitator               : Asmuji raiz anwar
6.      Observer                 : Seprinaldi







8.Setting tempat
®Rµ

JJJ
JJJ
n

                                          >
Keterangan :
J : audiens
n :fasilitator                                        
>:observer
®:moderator
R:penyaji
µ:dosen pembimbing


9.      Uraian tugas
a.       Penanggung jawab
Mengkoordinir persiapan dan pelaksanaan penyuluhan.
b.      Tugas moderator
1.      Membuka dan menutup acara penyuluhan
2.      Membuat kontrak waktu pelaksanaan kegiatan
3.      Menjelaskan tujuan dan topik penyuluhan
4.      Menyerahkan penjelasan penyuluhan kepada presenter
5.      Mengarahkan jalannya diskusi
6.      Memeberikan kesempatan kepada audiens untuk bertanya.
7.      Menyimpulkan kegiatan
c.       Tugas presenter
Memberikan penyuluhan sesuai topik yang akan disajikan.
d.      Tugas fasilitator
1.      Memotivasi audiens agar berperan aktif dalam penyuluhan
2.      Memfasilitasi dalam kegiatan
e.       Tugas observer
1.      Mengamati jalannya acara
2.      Mencatat prilaku verbal dan non verbal selama kegiatan berlangsung
3.      Membuat laporan hasil kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan
f.       Tugas notulen
1.      Mencatat pertanyaan yang diajukan audiens dan jawabannya
2.      Membuat absensi penyuluhan








10.  Susunan acara

NO
WAKTU
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Peserta
1.
5 menit
Pembukaan :
·         Memberi salam
·         Menjelaskan tujuan pembelajaran

·         Menjawab salam
·         Mendengarkan dan memperhatikan
2.
20 menit
Pelaksanaan :
·         Menjelaskan materi penyuluhan secara berurutan dan teratur
Materi :
1. pengertian remaja dan reproduksi?
2.potret remaja ?
3. pengertian free sex ?
4. remaja dan free sex
5. Dampak Seks Bebas terhadap Kesehatan Fisik dan Psikologis Remaja ?
6. bagaimana free sex di kalangan remaja bisa terjadi ?
7. bagaimana free sex di kalangan remaja bisa terjadi ?
8. Bagaiamana Remaja Bersikap?


·         Menyimak dan mendengarkan
3.
 15 menit
Evaluasi :
1.Menggali pengetahuan remaja tentang pergaulan bebas.
2.Menggali pengetahuan remaja tentang bagaimana cara membentengi diri dalam menghadapi pergaulan yang semakin bebas.



·         Bertanya dan menjawab pertanyaan
4.
5  menit
Penutup :
·         Mengucapkan terima kasih dan mengucapkan salam

·         Menjawab salam


11.  EVALUASI
a.       Evaluasi struktur
1)      Peran dan tugas mahasiswa sesuai dengan perencanaan
2)      Jumlah audiens yang hadir saat penyuluhan sesuai dengan perencanaan.
3)      Tempat dan alat sesuai perencanaan.
b.      Evaluasi proses
1)      Peserta aktif dalam kegiatan penyuluhan
2)      Peserta mengikuti penyuluhan dari awal sampai akhir
3)      Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.
c.       Evaluasi hasil
1)      Mampu menyebutkan apa pengertian dari free seks atau seks bebas
2)      Mampu menyebutkan apa dampak dari seks bebas
3)      Mengetahui bagaiman cara mengatasi perilaku seks bebas diklangan remaja.









LAMPIRAN MATERI

1.      .Pengertian remaja dan reproduksi
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa.Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat.Menurut
WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12 sampai 24
tahun.Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh
Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum
kawin.Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak
Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun.

Istilah reproduksi berasal dari kata re yang artinya kembali dan kata produksI yang artinya membuat atau menghasilkan.Jadi istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya.Sedangkan yang disebut organ reproduksi adalah alat tubuh yang berfungsi untuk reproduksi manusia.
2.       Potret remaja
Remaja dalam perkembangannya memerlukan lingkungan adaptip yang menciptakan kondisi yang nyaman untuk bertanya dan membentuk karakter bertanggung jawab terhadap dirinya. Ada kesan pada remaja, seks itu menyenangkan, puncak rasa kecintaan, yang serba membahagiakan sehingga tidak perlu ditakutkan. Berkembang pula opini seks adalah sesuatu yang menarik dan perlu dicoba (sexpectation).Terlebih lagi ketika remaja tumbuh dalam lingkungan mal-adaptif, akan mendorong terciptanya perilaku amoral yang merusak masa depan remaja. Dampak pergaulan bebas mengantarkan pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas, tindak kriminal termasuk aborsi, narkoba, serta berkembangnya penyakit menular seksual (PMS).
Beberapa penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan seksual. Di antara mereka yang kemudian hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi.
Sebagai catatan, kejadian aborsi di Indonesia cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. “ Dan 20 persen di antaranya remaja,” kata Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali ini.Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan dari pelajar SMP, 10,53 persen pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86 persen pernah berhubungan seksual. Dari aspek medis, menurut Dr. Budi Martino L., SPOG, seks bebas memiliki banyak konsekwensi misalnya, penyakit menular seksual,(PMS), selain juga infeksi, infertilitas dan kanker. Tidak heranlah makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS).
Di Denpasar sendiri, menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, per November 2007, 441 wanita dari 4.041 orang dengan HIV/AIDS. Dari 441 wanita penderita HIV/AIDS ini terdiri dari pemakai narkoba suntik 33 orang, 120 pekerja seksual, 228 orang dari keluarga baik. Karena keadaan wanita penderita HIV/AIDS mengalami penurunan sistem kekebelan tubuh menyebabkan 20 kasus HIV/AIDS menyerang anak dan bayi yang dilahirkannya.
Tindakan remaja yang seringkali tanpa kendali menyebabkan bertambah panjangnya problem sosial yang dialaminya. Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilan melakukan aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu mengalami kematian oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50 % diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman dan 90 % terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.
3.       Pengertian free sex
Seks bebas adalah hubungan seksual yang dilakukan diluar ikatan pernikahan, baik suka sama suka atau dalam dunia prostitusi.
Seks bebas bukan hanya dilakukan oleh kaum remaja bahkan yang telah berumah tangga pun sering melakukannya dengan orang yang bukan pasangannya. Biasanya dilakukan dengan alasan mencari variasi seks ataupun sensasi seks untuk mengatasi kejenuhan.
Seks bebas sangat tidak layak dilakukan mengingat resiko yang sangat besar. Pada remaja biasanya akan mengalami kehamilan diluar nikah yang memicu terjadinya aborsi. Ingat aborsi itu sangatlah berbahaya dan beresiko kemandulan bahkan kematian. Selain itu tentu saja para pelaku seks bebas sangat beresiko terinfeksi virus HIV yang menyebabkan AIDS, ataupun penyakit menular seksual lainnya.
Pada orang yang telah menikah, seks bebas dilakukan karena mereka mungkin hanya sekedar having fun. Biasanya mereka melakukan perselingkuhan denga orang lain yang bukan pasangan resminya, bahkan ada juga pasangan suami istri yang mencari orang ketiga sebagai variasi seks mereka. Ada juga yang bertukar pasangan. Semua kelakuan diatas dapat dikategorikan seks bebas dan para pelakunya sangat berisiko terinfeksi virus HIV.
4.       remaja dan free sex
Sudah menjadi maklum, remaja memang sosok yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Kenapa?. Remaja masa pencarian jati diri yang mendorongnya mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, ingin tampil menonjol, dan diakui eksistensinya. Namun disisi lain remaja mengalami ketidakstabilan emosi sehingga mudah dipengaruhi teman dan mengutamakan solidaritas kelompok. Diusia remaja, akibat pengaruh hormonal, juga mengalami perubahan fisik yang cepat dan mendadak.
Perubahan ini ditunjukkan dari perkembangan organ seksual menuju kesempurnaan fungsi serta tumbuhnya organ genetalia sekunder. Hal ini menjadikan remaja sangat dekat dengan permasalahan seputar seksual. Namun terbatasnya bekal yang dimiliki menjadikan remaja memang masih memerlukan perhatian dan pengarahan.
Ketidakpekaan orang tua dan pendidik terhadap kondisi remaja menyebabkan remaja sering terjatuh pada kegiatan tuna sosial. Ditambah lagi keengganan dan kecanggungan remaja untuk bertanya pada orang yang tepat semakin menguatkan alasan kenapa remaja sering bersikap tidak tepat terhadap organ reproduksinya. Data menunjukkan dari remaja usia 12-18 tahun, 16% mendapat informasi seputar seks dari teman, 35% dari film porno, dan hanya 5% dari orang tua.
5.       Dampak Seks Bebas terhadap Kesehatan Fisik dan Psikologis Remaja

a.dampak fisiologis

1.      aborsi


Pengetahuan remaja mengenai dampak seks bebas masih sangat rendah. Yang paling menonjol dari kegiatan seks bebas ini adalah meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia dimana 20 persennya dilakukan remaja. Di Amerika, 1 dari 2 pernikahan berujung pada perceraian, 1 dari 2 anak hasil perzinahan, 75 % gadis mengandung di luar nikah, setiap hari terjadi 1,5 juta hubungan seks dengan pelacuran. Di Inggris 3 dari 4 anak hasil perzinahan, 1 dari 3 kehamilan berakhir dengan aborsi, dan sejak tahun 1996 penyakit syphillis meningkat hingga 486%. Di Perancis, penyakit gonorhoe meningkat 170% dalam jangka waktu satu tahun. Di negara liberal, pelacuran, homoseksual/ lesbian, incest, orgy, bistiability, merupakan hal yang lumrah bahkan menjadi industri yang menghasilkan keuntungan ratusan juta US dolar dan disyahkan oleh undang-undang.
Lebih dari 200 wanita mati setiap hari disebabkan komplikasi pengguguran (aborsi) bayi secara tidak aman. Meskipun tindakan aborsi dilakukan oleh tenaga ahlipun masih menyisakan dampak yang membahayakan terhadap keselamatan jiwa ibu. Apalagi jika dilakukan oleh tenaga tidak profesional (unsafe abortion).
Secara fisik tindakan aborsi ini memberikan dampak jangka pendek secara langsung berupa perdarahan, infeksi pasca aborsi, sepsis sampai kematian. Dampak jangka panjang berupa mengganggu kesuburan sampai terjadinya infertilitas.
Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat.

2.HIV/AIDS

HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain. Bisa dilihat dari 2 gejala yaitu gejala Mayor (umum terjadi) dan gejala Minor (tidak umum terjadi):

Gejala Mayor:
- Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
- Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
- Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
- Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
- Demensia/ HIV ensefalopati

Gejala MInor:
- Batuk menetap lebih dari 1 bulan
- Dermatitis generalisata
- Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang
- Kandidias orofaringeal
- Herpes simpleks kronis progresif
- Limfadenopati generalisata
- Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
- Retinitis virus sitomegalo
3.penyakit menular seksual


Penyakit menular seksual adalah penyakit yang menyerang manusia dan binatang melalui transmisi hubungan seksual, seks oral dan seks anal. Kata penyakit menular seksual semakin banyak digunakan, karena memiliki cakupan pada arti' orang yang mungkin terinfeksi, dan mungkin mengeinfeksi orang lain dengan tanda-tanda kemunculan penyakit. Penyakit menular seksual juga dapat ditularkan melalui jarum suntik dan juga kelahiran dan menyusui. Infeksi penyakit menular seksual telah diketahui selama ratusan tahun.

4.Narkoba

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
c.       dampak psikologis
Rasa bersalah,marah,sedih,sesal,malu,kesepian,tidak punya bantuan,bingung,stres,benci diri sendiri,benci orang yang terlibat,takut yang tidak jelas,insomnia,kehilangan konsentrasi,depresi,berduka,tidak punya pengharapan,cemas,tidak memaafkan diri sendiri,takut hukuman tuhan,mimpi buruk,merasa hampa,halusinasi.
6.       Faktor Penyebab terjadinya seks bebas dikalangan remaja

Beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu :

Ø  Kurangnya kasih sayang dari orang tua
Banyak para remaja yang terjerumus pada kenakalan remaja karena kurangnya ksih sayang dari orang tua mereka. Banyak orang tua yang terlalu memikirkan pekerjaan mereka dari pada memikirkan keadaan anak-anak mereka. Sehingga seorang anak merasakan tekanan psikologis pada diri mereka. Meraka tidak tahu harus berbagi cerita dengan siapa, sehingga saat ada maslah sering terjerumus dengan hasutan teman-teman mereka.

Ø  Kurangnya pengawasaan dari orang tua mereka
Sibuknya orang tua dengan pekerjaan membuat kurangnya pengawasan pada anak-anak mereka. Sehingga banyak anak-anak sering keluyuran dan bermainan dengan teman-teman mereka setelah pulang sekolah. Apalagi saat ini perkembangan teknologi semakin maju. Banyak anak-anak salah persepsi tentang penggunaan komputer maupun handpone dengan cara yang negatif. Misalnya : menonton gambar-gambar porno atau video porno yang ada.



Ø  Pergaulan dengan teman yang tidak sebaya
Usia remaja merupakn usia produktif dan sudah mulai mengenal yang namanya saling menyukai lawan jenis. Pergaulan yang salah bisa membuat mereka melakukan hal yang senonoh yang tidak seharusnya mereka lakukan. Misal : sehabis menonton video porno, mereka mempunyai hasrat hawa nafsu yang mendalam dan pengen melampiaskan kepada lawan jenis mereka sehingga timbul perkosaan ataupun hubungan sexsual diluar nikah. Ada juga yang terjerumus dengan minum-minuman keras maupun sampai kenarkoba.

Ø  Tidak adanya bimbingan kepribadian yang baik
Sibuknya orang tua membuat kurangnya perhatian bagi seorang anak dan kurrang bimbingan yang baik. Banyak anak-anak yang menyalahgunakan kepercayaan orang tua mereka dan terjerumus pada kenakaln remaja. Kurangnya dasar-dasar agama juga membuat mereka melakukan tindakan yang negatif karena tidak tahunya pengetahuan agama dalam diri mereka
.

7.      Cara remaja bersikap
Hubungan seks di luar pernikahan menunjukkan tidak adanya rasa tanggung jawab dan memunculkan rentetan persoalan baru yang menyebabkan gangguan fisik dan psikososial manusia. Bahaya tindakan aborsi, menyebarnya penyakit menular seksual, rusaknya institusi pernikahan, serta ketidakjelasan garis keturunan.
Kehidupan keluarga yang diwarnai nilai sekuleristik dan kebebasan hanya akan merusak tatanan keluarga dan melahirkan generasi yang terjauh dari sendi-sendi agama.
Sebagaimana apa yang diperingatkan Alloh dalam surat An-Nur: 21:
”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barang siapa yang mengikuti langkah syetan, maka sesungguhnya dia (syetan) menyuruh perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Alloh dan Rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun diantara kamu bersih dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Alloh membersihkan siapa yang dikehendaki... (An-nuur (24):21)
Aktifitas seksual pada dasarnya adalah bagian dari naluri yang pemenuhannya sangat dipengaruhi stimulus dari luar tubuh manusia dan alam berfikirnya. Meminimalkan hal-hal yang merangsang, mengekang ledakan nafsu dan menguasainya. Masa remaja memang sangat memperhatikan masalah seksual. Banyak remaja yang menyukai bacaan porno, melihat film-film porno. Semakin bertambah jika mereka berhadapan dengan rangsangan seks seperti suara, pembicaran, tulisan, foto, sentuhan, dan lainnya. Hal ini akan mendorong remaja terjebak dengan kegiatan seks yang haram.
Perawatan organ reproduksi tidak identik dengan pemanfaatan tanpa kendali. Sistem organ reproduksi dalam pertumbuhannya sebagaimana organ lainnya, memerlukan masa tertentu yang berkesinambungan sehingga mencapai petumbuhan maksimal. Disinilah letak pentingnya pendampingan orang tua dan pendidik untuk memberi pemahaman yang benar tentang pertumbuhan organ reproduksi. Pemahaman remaja berkaitan dengan organ reproduksinya tentunya ditanamkan sesuai dengan kadar kemampuan logika dan umur mereka. Dengan demikian remaja tidak akan cemas ketika menghadapi peristiwa haid pertama, melewati masa premenstrual syndrome dengan aman, memahami hukum fiqh terkait dengan haid serta peristiwa lain yang mengiringi masa pubertas remaja.
Remaja juga harus bisa menjaga diri (isti’faaf). Hal ini mampu dilakukan pada remaja yang mempunyai kejelasan konsep hidup dalam menjalani hidupnya. Orang tua sejak usia dini harus menanamkan dasar yang kuat pada diri anak bahwa Alloh menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Jika konsep hidup yang benar telah tertanam maka remaja akan memahami jati dirinya, menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya, mengerti hubungan dirinya dengan lingkungaanya. Kualitas akhlak akan terus terpupuk dengan memahami batas-batas nilai, komitmen dengan tanggung jawab bersama dalam masyarakat. Remaja akan merasa damai di rumah yang terbangun dari keterbukaan, cinta kasih, saling memahami di antara sesama keluarga. Pengawasan dan bimbingan dari orang tua dan pendidik akan menghindarkan dari pergaulan bebas, komitmen terhadap aturan Allah baik dalam aurot (pakaian), pergaulan antar lawan jenis, menghindari ikhtilath dan sebagainya.
8.      Pencegahan untuk menanggulangi seks bebas
Bagi orang tua lebih memperhatikan pergaulan pada anaknya, tetapi tidak terlalu mengekang anak untuk bermain dengan teman sebayanya karena malah membuat psikologi seorang anak menjadi tertekan. Sebagian besar orangtua di jaman sekarang sangat sibuk mencari nafkah.  Mereka sudah tidak mempunyai banyak kesempatan untuk dapat mengikuti terus kemana pun anak-anaknya pergi. Padahal, kenakalan remaja banyak bersumber dari pergaulan.
Oleh karena itu, orangtua hendaknya dapat memberikan inti pendidikan kepada para remaja. Inti pendidikan adalah sebuah pedoman dasar pergaulan yang singkat, padat, dan mudah di ingat secara mudah. Dengan memberikan inti pendidikan ini, kemana saja anak pergi ia akan selalu ingat pesan orangtua dan dapat menjaga dirinya sendiri. Anak menjadi mandiri dan dapat dipercaya, karena dirinya sendirinyalah yang akan mengendalikan dirinya sendiri. Selama seseorang masih memerlukan pihak lain untuk mengendalikan dirinya sendiri, selama itu pula ia akan berpotensi melanggar peraturan bila si pengendali tidak berada di dekatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar